officially love this
This is how the story went
I met someone by accident
Who blew me away
Blew me away
And It was in the darkest of my days
When you took my sorrow and you took my pain
And buried them away, buried them away
I wish I could lay down beside you
When the day is done
And wake up to your face against the morning sun
But like everything I've ever known
You'll disappear one day
So I'll spend my whole life hiding my heart away
Dropped you off at the train station
Put a kiss on top of your head
Watched you wave
And watched you wave
Then I went on home to my skyscrapers
And neon lights and waiting papers
That I call home
I call that home
Woke up feeling heavy hearted
I'm going back to where I started
The morning rain
The morning rain
And though I wish that you were here
On that same old road that brought me here
It's calling me home
It's calling me home
I wish I could lay down beside you
When the day is done
And wake up to your face against the morning sun
But like everything I've ever known
You'll disappear one day
So I'll spend my whole life hiding my heart away
I can spend my whole life hiding my heart away
apple of my life
Sabtu, 11 Oktober 2014
oct' note for self
yang paling sederhana tapi penuh makna seringkali dilupakan yaitu bersyukur, manusia begitu entengnya mengeluh ketika susah, tapi sering lupa bersyukur ketika senang. begitu mudahnya memaki kehidupan dengan segala permasalahan yang tak berujung, sesungguhnya dengan masalah itulah manusia menjadi hidup, menapaki rintangan begitulah seharusnya mengukur kelas kita. bagaimana kita mengatasinya, bagaimana kita melewatinya, berfikir, berusaha, berdoa, bersyukur itulah yang menjadikan manusia hidup. Jika hidup tanpa masalah, kenapa harus berfikir dan berusaha, tanpa berfikir dan berusaha manusia tumpul, apa masih bisa disebut manusia jika tak berfikir, apa tak malu jika tanpa usaha, tanpa berdoa dan bersyukur manusia seperti berdiri tanpa tumpuan, karena doa dan syukur itu keyakinanmu yang menguatkan dan mengarahkan.
sesulit apapun masalah yg kamu hadapi, jangan lupa tetap bersyukur karena ada hikmah dibaliknya.
sesulit apapun masalah yg kamu hadapi, jangan lupa tetap bersyukur karena ada hikmah dibaliknya.
Rabu, 21 Mei 2014
karma bersama segelas kopi pahit dingin
hey, aku kembali. kenapa kau tak bergeming?
aku kembali, ya aku kembali. untuk menarik perhatianmu lagi, kenapa kau masih diam?
berapa lama lagi kau akan mengacuhkanku yang berusaha menarik perhatianmu ini?
hey... apa kau benar-benar tak melihatku? apa kau benar-benar pergi seperti yang kuminta dulu? menjauh dan menghilang dariku dan jangan kembali
hey... aku tau kau disana. tapi apa kau benar-benar tak menyadari keberadaanku?
aku tidak jadi lebih baik dari yang dulu, tapi kulihat, sudah banyak perubahan di dirimu. apa karena itu kau enggan melihat ke arahku?
apa karena keangkuhanku dulu membuatmu malas berurusan lagi denganku?
setauku kau orang yang gigih, aku bahkan sampai bosan mengusirmu, bosan mereject panggilanmu, bosan melihatmu muncul di facebook, twitter, bbmku.
ya, mungkin sekarang sudah terbalik, karena kata mereka karma itu ada
bagaimana aku mengabaikanmu dulu karena merasa tidak ada yang yang bisa aku banggakan darimu. bagaimana aku dulu melihatmu sebelah mata dan melihat segala kekuranganmu tanpa menyadari kelebihan-kelebihan yang kau punya, kelebihanmu bisa mencintai sepenuh hati yang tidak aku punya.
aku merasakannya sekarang, kesepian. ya karma itu benar-benar ada.
akan kunikmati karma ini, bagai segelas kopi hitam pekat yang pahit, ketika sudah dingin dan ingin kutambahkan gula apakah akan terasa manis?
aku kembali, ya aku kembali. untuk menarik perhatianmu lagi, kenapa kau masih diam?
berapa lama lagi kau akan mengacuhkanku yang berusaha menarik perhatianmu ini?
hey... apa kau benar-benar tak melihatku? apa kau benar-benar pergi seperti yang kuminta dulu? menjauh dan menghilang dariku dan jangan kembali
hey... aku tau kau disana. tapi apa kau benar-benar tak menyadari keberadaanku?
aku tidak jadi lebih baik dari yang dulu, tapi kulihat, sudah banyak perubahan di dirimu. apa karena itu kau enggan melihat ke arahku?
apa karena keangkuhanku dulu membuatmu malas berurusan lagi denganku?
setauku kau orang yang gigih, aku bahkan sampai bosan mengusirmu, bosan mereject panggilanmu, bosan melihatmu muncul di facebook, twitter, bbmku.
ya, mungkin sekarang sudah terbalik, karena kata mereka karma itu ada
bagaimana aku mengabaikanmu dulu karena merasa tidak ada yang yang bisa aku banggakan darimu. bagaimana aku dulu melihatmu sebelah mata dan melihat segala kekuranganmu tanpa menyadari kelebihan-kelebihan yang kau punya, kelebihanmu bisa mencintai sepenuh hati yang tidak aku punya.
aku merasakannya sekarang, kesepian. ya karma itu benar-benar ada.
akan kunikmati karma ini, bagai segelas kopi hitam pekat yang pahit, ketika sudah dingin dan ingin kutambahkan gula apakah akan terasa manis?
I
Aku masih sibuk menggaruk tangan dan kakiku yang gatal, hampir seharian aku duduk di depan laptop yang layarnya sudah bergetar ini, bergetar karena LCDnya sudah rusak, sehingga tidak sempurna lagi visual yang ditampilkan, seringkali membuat pusing kepala, tapi aku masih betah-betah saja, bahkan ditemani semut-semut yang sedari tadi mengerubungiku membuat kaki dan tanganku gata-gatal bahkan sampai ke muka-mukaku disatroninya. bentol sudah dagu ini. aku bercermin tapi tak nampak ada bentol di wajhaku yang diakibatkan oleh gigitan semut, mungkin karena mukaku sudah penuh bentol-bentol jerawat. sehingga bentol kecil akibat ulah semut nyaris samar dengan adanya jerawat-jerawat yang menghiasi mukaku. sudah 3 bulan aku mulai perawatan wajah lagi untuk menghilangkan jerawat, sudah banyak uang ku keluarkan, tapi tak kunjung tampak ada perubahan. aku bisa apa, segala cara sudah dicoba tapi masih saja nihil. Kata orang yang lebih tua, 'nanti kalau sudah menikah hilang sendiri, tenang saja". ah... entahlah, aku sendiri bingung apa korelasinya antara jerawat dan menikah. mungkin kalau sudah menikah stress berkurang sehingga jerawat tidak muncul lagi? tapi setauku justru banyak orang yang beban hidupnya bertambah setelah menikah. atau mungkin setelah menikah karena punya suami jadinya istri lebih merawat diri sehingga jerawat pun enggan tumbuh? sudahlah, aku tidak mau menebak-nebak.
Sudah sebulan lebih aku pindah di kostku yang baru ini, rasanya sama saja. sudah 3 kali aku hijrah kost-kostan selama 4 tahun aku di Jogja. padahal niatku sedrai awal aku hanya akan menetap di satu kost saja tanpa pindah-pindah selama aku berada di Jogja. apa boleh buat, rencana memang tak semua berjalan serupa. kalau saja harga kostnya tidak naik, dan aturan kostnya tidak berubah, mungkin aku masih disana. kost lamaku di seputaran jalan Taman Siswa, dekat dengan kampusku. alasan ku memilih kost yang dekat dengan kampus tentu saja karena kebiasaanku bangun siang, dan selalu pergi kuliah mepet jam masuk, bahkan telat, apa jadinya kalau kost ku jauh? mungkin absenku sudah berkali-kali bolong dan aku tidak bisa ikut ujian dan kuliahku terhambat sehingga aku tidak bisa tutup teori di waktu yang tepat dan tidak bisa wisuda tahun ini, dampaknya sungguh berantai. mungkin tidak seberlebihan itu, kalau kostku jauh dari kampus, tentunya aku akan bangun lebih pagi dan menyesuaikan jadwal tidurku sehingga aku tidak kesiangan dan terlambat kuliah.
tapi aku bersyukur, bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, walaupun tidak lebih cepat dari yang lainnya, karena impianku adalah kuliah 3,5 tahun untuk program S1 ini. tapi itulah aku, aku bukan mahasiswa jenius, aku tidak rajin, aku bukan golongan nomer satu, tapi aku juga bukan di urutan belakang, aku biasa-biasa saja,aku rata-rata mahasiswa pada umumnya, tidak ada yang bisa dibanggakan memang dari golongan biasa-biasa saja, juga tidak ada yang menaraik dari golongan biasa-biasa saja, jika aku si urutan pertama atau mungkin aku si urutan terakhir, mungkin justru lebih menarik dan kompleks ceritanya. tapi ya inilah aku si golongan rata-rata. mungkin aku bisa mengejar targetku dulu kuliah kurang dari 4 tahun untuk S1, tapi ditengah perjalanan aku tidak mau bekerja lebih keras dari yang rata-rata, aku tidak mau berjuang lebih gigih, sehingga di kelompok rata-ratalah aku sekarang.
Sudah sebulan lebih aku dikost ini, tiap malam menikmati pemandangan yang sama, Ambarukmo Plaza yang mereka sebut mall terbesar se-DIY dan Jateng bercokol kokoh diseberang jendela kamarku, sekali-sekali aku mengintip dari balik tirai yang tersibak kena angin dari kipas anginku tentunya, karena udara belakangan ini sedang tidak bersahabat, tidak mungkin ada angin dari luar sana yang kuat menghembuskan tiraiku hingga berayun-ayun. kilauan cahayanya seolah-olah memanggilku untuk berkunjung, sungguh menarik perhatian karena itu satu-satunya cahaya yang ramai diantara kegelapan malam yang dapat aku saksikan dari jendela kamarku. karena saingannya hanyalah sawah, hutan bambu, rumah penduduk yang mungil-mungil dilihat dari kamar kostku yang terletak di lantai dua. lengkap sekali disini, ditengah kota tapi aku masih bisa menikmati hijaunya sawah dan jika beruntung cuaca cerah di pagi hari aku bisa menikmati merapi yang gagah itu hingga puncaknya. sungguh menakjubkan pemandangan pagi selepas subuh, langit yang remang-remang dengan mentari yang masih malu-malu menampakan dirinya, merapi yang gagah, sedikit cahaya kilau kemilau amplaz, sawah yang hijau sebagian dan sebagian lagi belum ditanami, dibajak oleh kerbau kerbau yang melenguh dibawah kendali pak tani, bambu yang menari-nari mengikuti angin, dan udara sejuk. dari kamar ini pula sesekali aku melihat pesawat lewat setiap jam mungkin, aku sendiri kurang mengamati, mungkin temanku lala lebih tau, dia selalu menghitung jam berapa pesawat selanjutnya akan lewat, dan setiap kali ada pesawat lewat dia melengok ke atas melihat pesawat apa yang lewat, dan bergumam "tebakanku benar". ternyata dia juga menebak pesawat apa yang lewat di jam-jam tertentu. memang sudah seperti petugas tower bandara saja, ya kost ku memang dekat bandara, jadi pesawat terbang cukup rendah di atas sini.
selain bandara, kostku juga dekat dengan perlintasan kereta api, sebentar-sebentar juga akan terdengar suara tilulilut sirine tanda jalanan ditutup untuk kereta api yang melintas. lengkap memang.
awalanya aku terganggu dengan suara pesawat yang sebentar-sebentar lewat, rasanya seperti tinggal di lintasan mereka saja, sungguh berisik. tapi lama-lama terbiasa juga. sirine tanda portal jalanan ditutup untuk kereta melintas juga cukup mengganggu, tapi aku juga sudah berdamai dengan itu.
aku masih mengetik sambil menggaruk tanganku yang mulai memerah dan bentol, beginilah kost dekat sawah, banyak serangga. gampang sekali mengumpulkan pasukan semut ini, sedikit saja ada makanan langsung diserbu, tak ada makanan pun mereka berkumpul mengelilingi karpetku yang ku gelar hampir menutupi seluruh lantai kamar. tidak hanya semut yang sering bertamu, entah jenis serangga apa lainnya aku tidak cukup mengenal mereka, yang jelas setiap bangun pagi selalu ada jejak di badan ini. aku hanya bisa menggerutu, sejak kecil tidak pernah ada bekas apa apa di badanku, tapi ketika sudah dewasa begini malah banyak jejak-jejak kecil menyebalkan, rencana menutup ventilasi agar tidak dimasuki serangga kalu malam hanya wacana saja, aku selalu lupa. semoga besok ingat.
tidak banyak komunikasi yang aku jalin disini, anak kost disini hampir tidak saling mengenal, selalu tutup pintu. walhasil tidak banyak yang aku kenal hanya 2 atau 3 mungkin. itupun hanya sekedar sapa saja kalau bertemu, tidak ada ngobrol panjang, haha hihi, saling nginep dikamar masing-masing seperti kebiasanku dikost lama ku dulu. disini benar-benar berbeda.
kulihat jam di sudut layar segiempat ini, sudah setengah delapan lebih, ah ya.. aku belum mandi.
ku rasa aku harus segera mandi, aku bergegas mengambil handuk menuju kamar mandi, tanpa mematikan laptop terlebih dulu, karena aku tau, setelah mandi nanti laptop jugalah yang akan ku raih pertama kali, sebelum berpakaian bahkan.
benar, aku langsung membuka tab facebook, membaca apakah ada pemberitahuan terbaru, mengomentari status puitis yang kubuat sejam yang lalu. setelah sekian lama tidak membuka social media ini, aku tiba tiba menuliskan kalimat puitis yang bahkan tidak pernah kulakukan, sebenarnya sering, tapi hanya sejangkauan buku harian dan blog pribadiku saja, tidak pernah aku menulis kalimat puitis dan kubagikan di social media, aku malu dianggap menye-menye.
ah, kuperhatikan badanku mulai menyusut, entah apa yang membebani pikiranku belakangan ini, harusnya aku mahasiswa yang merdeka sekarang, karena hanya tinggal menunggu wisuda dilaksanakan. lepas sudah beban skripsi, lepas sudah beban tugas kuliah yang estafet tanpa henti. lenganku mengecil, pantas saja jam ku makin mengendor, makin terlihat kecil saja. aku harus berhenti begadang, kurangi stress, mencari hiburan dan perbanyak makan.
bagaimana caranya dengan uang yang menipis ini, aku makan saja sehari dua kali, bahkan kadang hanya sekali, itu juga dengan lauk kering tempe yang kubawa dari rumah dari liburan terakhirku 3 bulan yang lalu. persedian mie juga menipis, pun beras juga.
sayup sayup kudengar suara dari handphone bututku satu-satunya, kulihat namanya, "ibu"
kudiamkan saja, entah kenapa aku malas mengangkat telponnya, padahal aku kangen sekali mendengar suaranya, bahkan ingin memeluknya walaupun tidak pernah kulakukan, tubuh ini terlalu kaku untuk memeluk, karena itu bukan kebiasaan di keluarga kami, kami bukan keluarga yang dengan leluasa mengatakan sayang, kangen, pelukan, ciuman, asing bagi kami,. terlalu gengsi karena tidak ada yang melakukan itu sedari kami kecil,
kubiarkan saja panggilan dari ibu, besok saja baru aku angkat karena biasanya ibu akan menelpon lagi.
kubaringkan tubuhku diatas karpet coklat, kuali kepalaku dengan guling, kupeluk buku yang sedang kubaca belakangan ini, terakhir kubaca air mataku terkuras habis, dan aku bangun dengan mata sembab yang tidak bisa aku tutupi bahkan dengan memoles eyeliner setebal mungkin memberi efek mataku besar tapi tidak sembab. tetap saja gagal.
ku bayangkan sosok tokoh utama dalam novel itu, membuatku belajar banyak, memotivasiku untuk lebih baik, tapi aku tau hanya gertak sambal saja, karena kelak aku akan lupa dan menjadi orang malas lagi.
aku membayangkannya sambil memejamkan mata, dan larutlah aku dalam tidur yang panjang.
Selasa, 20 Mei 2014
Jangan Putus Harapan Meski Gagal :)
Untuk PPS BRI, mungkin jalan saya bukan disana yang bahkan gagal dalam wawancara awal, dari sekitar 1600an peserta yang terpanggil mengikuti wawancara awal, sekitar 300an orang yang terpilih dan salah satu teman dekat saya diantaranya. Ya, saya sedikit kecewa, karena besar harapan saya untuk bisa lolos dalam rangkaian seleksi PPS. Tapi, saya hanya bisa berusaha dan berdoa, yang menentukan jalan saya mengarahkan saya ke jalan lain yang saya yakin itulah yang terbaik buat saya kelak. sampai sekarang saya masih pengangguran yang menunggu wisuda sambil nonton runningman, nonton film, baca novel, mendengarkan musik, nonton tv, sambil cari-cari lowongan kerja di internet dan apply secara online, namanya juga mencoba. saya masih mencari-cari penerimaan cpns kementerian, sejauh ini belum ada yang membuka rekrutmen sepertinya.
besok ada jobfair di kota saya, Yogyakarta. 21-22 Mei 2014 di JEC tepatnya, tapi teman saya mengajak datang tanggal 22 saja biar bisa bareng, karena dia ada acara tanggal 21. saya iyakan saja, kebetulan biar ada teman dan biar saya nggak celingak-celinguk sendiri nanti di sana, karena ini pengalaman pertama saya mendatangi jobfair, saya tidak punya gambaran bagaiman situasi di lokasi jobfair nantinya, seenggaknya kalau saya celingak-celinguk saya nggak sendiri.
saya masih galau dengan masalah pekerjaan selepas kuliah nanti, saya takut menjadi pengangguran, pengangguran sarjana lebih berat ketimbang penggangguran yang hanya lulusan SMA, begitu menurut saya, karena presure yang say terima akan lebih berat, orang-orang akan berkata, percuma sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya nganggur juga, percuma sekolah tinggi-tinggi kerjaannya cuma begini saja. itu yang selalu saya pikirkan. saya harus dapat pekerjaan secepatnya, kalau bisa biar tidak ada kesempatan menganggur sama sekali setelah lulus kuliah, jadi selepas wisuda saya langsung kerja, seharusnya ini kesempatan yang baik buat saya, ada masa 3 bulan sebelum wisuda dilangsungkan dan saya punya kesempatan untuk apply kerja sana-sini. sehingga selepas wisuda kelak saya sudah tidak nganggur lagi, tapi masa 3 bulan ini cukup menggoyahkan hati saya untuk pulang ke kampung halaman tempat saya dibesarkan, ibu saya sudah berkali-kali menelpon menyuruh saya pulang untuk membantu usahanya di rumah, karena memang sedang kekurangan tenaga kerja, saya pikir lumayan sekali saya bisa pulang dirumah 3 bulan dan saya juga bisa bantu ibu, tapi kalau saya dirumah, akan pasif sekali karena saya tidak bisa melamar kerja disana sini, perusaan yang saya masukkan lamaran tentunya ada di pulau jawa, yang saya khawatirkan jikalau saya mendapat panggilan wawancara maka saya harus bolak balik ke sana untuk melakukan wawancara, iya kalau lulus, kalau tidak. sungguh sia-sia uang, waktu, keringat, usaha saya. saya masih bingung apakah harus pulang atau tetap di jogja dan melamar pekerjaan di berbagai perusahaan, andai semuanya bisa online saya rasa tidak akan sesulit ini. apa mungkin sebenarnya memang tidak sulit? hanya saya yang terlalu melebih-lebihkan? mungkin saja, karena kata teman saya, saya adalah orang yang panikan, tidak bisa tenang kalau sudah mengkhawatirkan sesuatu, padahal menurutnya hal itu tidak perlu ditanggapi seserius itu, saya akui saya memang orang seperti itu, saya panikan karena saya takut kecewa, saya takut hasilnya tidak seperti yang direncanakan, semua harus sempurna menurut saya, sekilas saya terlihat perfeksionis, tapi perfeksionis juga bukan kata yang tepat untuk melukiskan saya,
saya harap seiring berjalannya waktu saya menemukan jawaban atas kebingungan saya, apakah pulang atau tetap disini. saya berharap jobfair nanti membawa berita baik buat masa depan saya. amiiin yaa rabbal alamiin. saya berharap? tentu saja saya berharap, berap persen kemungkinan dari harapan saya terwujud urusan belakang, yang penting saya masih punya keberanian untuk berharap, karena demikianlah manusia hidup, berharap, berusaha, dan berdoa. setidaknya masih ada harapan, harapan itulah yang menemani saya, harapan membuat saya berani berusaha untuk mewujudkannya menjadi nyata :)
Sabtu, 10 Mei 2014
H-1 Wawancara Awal PPS BRI
Sebenernya mau cerita tentang gimana persiapan saya ikut wawancara awal PPS BRI, tapi malah jadi pengen curhat banyak.
mungkin karena perasaan saya lagi ga karuan, gatau karena apa, entah efek grogi dan nervous mau wawancara kerja perdana atau memang ada hal lain yang bikin suasana hati saya ga enak.
terlalu banyak yang saya khawatirkan, mungkin lebih tepatnya saya besar-besarkan. belum ngurus pendaftaran wisuda, mikir cari kerja, bingung juga antara kerja atau lanjut S2, pengen banget pulang karena udah kangen keluarga apalagi tau lagi ada masalah di keluarga, pusing mikirin servis mobil yang ternyata ngabisin duit banyak banget, sedih karena hidup boros banget satu bulan terakhir ini :( janji sama ibu buat hemat-hemat karena tau sendiri cari duit susah, eh ternyata masih boros juga, masih banyak yang belom dibayar dan uangnya kepake entah buat apa tau-tau abis :(
umur saya 22 tahun tapi kenapa saya tidak bertanggung jawab seperti ini? kemaren saya optimis ikut PPS BRI, Optimis lolos sampai tahap akhir, tapi sekarang setelah baca-baca banyak tentang PPS BRI baik di Kaskus maupun di Blog temen2 yang sudah ikut PPS BRI saya langsung ciut, tadinya saya mengira saya cukup matang dan mantap untuk melangkah kesini, tapi sekarang saya benar-benar ciut, materi yang saya pelajari seputar BRI pun tidak bisa masuk ke otak, saya tidak bisa fokus. membaca pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu ikut PPS BRI sepertinya mereka adalah orang luar biasa, tangguh, cerdas, pandai, entah kenapa saya langsung tidak percaya diri, padahal saya juga bukan termasuk orang yang bodoh, saya memperoleh predikat cumlaude dengan pencapaian IPK saya. saya sendiri bingung dengan perubahan dalam diri saya sendiri yang 180' berubah dari sebelumnya optimis menjadi pesimis, sebenarnya saya beruntung karena sudah mengakses banyak tentang BRI tapi entah kenapa saya tidak bisa fokus untuk mempelajari itu, saya juga tiba-tiba meragukan apakah saya benar-benar bisa ditempatkan di daerah terpencil, apabila itu masih di wilayah Indonesia bagian barat mungkin saya masih berani, tapi jika itu di Indonesia bagian Timur, saya tidak yakin. sebelumnya saya sudah diperingatkan dengan teman saya bahwa budaya kerja di bank itu terkenal melelahkan, pergi pagi, pulang malam, tapi keinginan saya yang begitu kuat mampu mengalahkan keraguan saya, tapi sekarang saya justru ragu. selain itu saya belum mepersiapkan transkrip nilai yang mungkin dibutuhkan untuk besok wawancara awal, saya mengabaikan itu karena yang saya baca di website BRI bahwa peserta hanya perlu membawa alat tulis, foto, fotocopy KTP dan SIM, karena tidak disebutkan harus membawa cv, transkrip, ijazah dan kebutuhan2 pelamar kerja lainnya maka saya tidak menyiapkan itu, tapi setelah H-2 malamnya saya membaca dari pengalaman peserta wanwal bahwa setelah masuk ruangan wawancara peserta menyerahkan cv dll saya baru kepikiran apakah itu juga diperlukan, padahal sudah tidak ada waktu buat saya mempersiapkan transkrip nilai tersebut, untuk Ijazah saya memang belum keluar karena wisuda saya ditunda, penggantinya SKL sebenarnya sudah bisa diambil tapi karena saya terlambat mengurus penyerahan skripsi dan lagi proses meminta tanda tangan dosen penguji dan dekan itu cukup rumit maka tertundalah pengambilan SKL saya, memang kesalahan ada pada saya yang terlalu santai mengurus penyerahan skripsi :(. saya sudah berusaha menghubungi staff bagian akademik di kampus saya dengan cara SMS dan telfon berkali-kali tapi telfon saya tidak diangkat dan yang terakhir direject. saya sudah mohon agar transkrip saya bisa dikeluarkan tapi tidak ada tanggapan, bisa saya maklumi karena hari ini hari Sabtu, bagian akademik sudah jelas tutup. tapi karena saya baru mengetahui masalah transkrip itu jumat malam maka memang tidak banyak yang bisa saya lakukan,yang saya sesalkan, Jumat siangnya saya kekampus mengurus penyerahan skripsi untuk memperoleh SKL, tapi karena masalah tekhnis burn CD membutuhkan waktu yang lama maka penyerahan skripsi belum bisa dilakukan, saya sesalkan kenapa saya tidak minta transkrip nilai sekalian padahal saya selama di kampus berkutat di depan ruangan akademik, sungguh sia-sia.
alternatifnya karena tidak memperoleh transkrip nilai saya inisiatif untuk print sendiri KHS kumulatif di website kampus saya untuk mendapatkan daftar nilai kuliah saya, nanti sebisa mungkin saya jelaskan kepada yang mewawancarai.
saya sudah bertanya pada salah seorang teman saya yang ikut PPS BRI juga, dia dapat jadwal hari ini jam 10, dan saya besok jam 1, tapi BBM saya sampai sekarang belum dibalas, padahal sudah dari jam 1 tadi saya bbm dan sekarang sudah jam 4 sore. ya memang begitulah.
sebenarnya untuk pertanyaan besok tidak terlalu sulit, berdasarkan pengalaman teman-teman yang sudah wawancara yang di share di blog dan trit kaskus, tapi saya gatau kenapa jadi grogi sekali dan bahkan tidak bisa menyiapkan kata kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang relatif selalu sama di tahap wawancara awal nanti. saya hanya berdoa saja.
salah satu yang membuat saya ragu ikut PPS BRI mungkin saya takut kalau nantinya keterima dan harus ikut tahapan seleksi selanjutnya saya tidak bisa pulang ke keluarga saya, padahal saya sangat ingin sekali pulang, karena wisuda yang ditunda dari awalnya 31 Mei 2014 jadi 23 Agustus 2014, lumayan lama jadi saya langsung disuruh pulang begitu keluarga tau kalau wisuda diundur, saya memang berencana pulang setelah menyelesaikan proses pendaftaran wisuda, disamping kangen keluarga, karena uang saku saya sudah habis hehe, tapi ditengah tengah proses ngurusin pendaftara wisuda ternyata dapat panggilan wawancara PPS BRI, yang apabila lolos maka saya akan seleksi terus sampai tahap akhir, yang setelah saya survey memakan waktu bisa sampai 3 bulan dari proses wawancara awal ke MCU belum lagi proses sign contract yang mungkin akan dilakukan setelahnya sehingga apabila diterima mungkin saya tidak bisa ikut wisuda, walupun itu simbolis saja tapi itu pengalam sekali seumur hidup, apabila saya ikut dan saya lolos sudah pasti saya tidak bisa pulang, walaupun kemungkinan lolos kecil sekali karena peserta yang ikut ada ribuan.
setiap pagi saya ditelpon ibu saya menanyakan kapan saya pulang, bikin tambah kangen saja :(
PPS BRI, jika itu memang jalanku maka permudahlah dan lapangkanlah jalanku menuju kesana serta ikhlaskan lah aku agar tidak ada lagi kebimbangan dalam hatiku ya Allah, tapi jika itu bukan jalanku, hamba yakin Engkau telah menyiapkan rencana yang lebih indah untuk hamba :)
amiin ya rabbal allamin :)
Sabtu, 05 April 2014
Mom, how are you?
entahlah, disaat yang lain sudah menjalani apa yang mereka sukai, saya masih begini begini saja, sudah banyak teman saya yang wisuda untuk gelar sarjana mereka, saya juga tidak lama lagi seharusnya, hanya tinggal menunggu sidang skripsi. justru waktu waktu ini tidak bisa dibilang tidak berat, karena beban pikiran setiap hari adalah bagaimana caranya saya bisa melewati ujian skripsi dengan tenang dan lancar tanpa gugup karena gugup akan merusak presentasi saya kelak, bagaimana caranya menghadapi dosen penguji saya. itu yang saya pikirkan setiap hari, jujur hingga terbawa mimpi. tapi ya namanya juga saya, itu hanya jadi beban pikiran saja buat saya, menghambat saya untuk melakukan kegiatan lain dengan alasan karena sudah seminggu menjelang hari H saya harus fokus untuk belajar menghadapi sidang skripsi, saya harus mempersiapkan diri sematang-matangnya, tapi tidak ada aksi nyata yang saya lakukan, saya masih malas sebenarnya untuk belajar, yang saya lakukan hanya berpikir bagaimana bagaimana tanpa melakukan aksi, ah sudahlah saya memang begitu.
mungkin memang harus kepepet baru saya bisa fokus
saya butuh semangat dari ibu saya, ibu lagi apa ya disana?
kangen, padahal baru seminggu sampai di Jogja lagi, rasanya sedih banget ninggalin rumah lama-lama.
setiap ada yang nanya abis lulus kuliah mau kemana, mesti jawabnya cari kerja. ditanyain lagi mau kerja dimana, di bangka atau diluar?
mesti jawabnya di Bangka aja, sementara temen-temen yang lain gamau pulang lagi ke Bangka.
alhamdulillah saya ga silau sama kehidupan kota selama hampir 4 Tahun ini kuliah di Jogja. saya tetep kangen dengan keluarga saya di rumah, saya selalu pengen deket sama mereka, saya ga mau jauh-jauh dari keluarga saya terutama ibu sama bapak. dimanapun mereka berada saya mau tinggal sama mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)