Aku masih sibuk menggaruk tangan dan kakiku yang gatal, hampir seharian aku duduk di depan laptop yang layarnya sudah bergetar ini, bergetar karena LCDnya sudah rusak, sehingga tidak sempurna lagi visual yang ditampilkan, seringkali membuat pusing kepala, tapi aku masih betah-betah saja, bahkan ditemani semut-semut yang sedari tadi mengerubungiku membuat kaki dan tanganku gata-gatal bahkan sampai ke muka-mukaku disatroninya. bentol sudah dagu ini. aku bercermin tapi tak nampak ada bentol di wajhaku yang diakibatkan oleh gigitan semut, mungkin karena mukaku sudah penuh bentol-bentol jerawat. sehingga bentol kecil akibat ulah semut nyaris samar dengan adanya jerawat-jerawat yang menghiasi mukaku. sudah 3 bulan aku mulai perawatan wajah lagi untuk menghilangkan jerawat, sudah banyak uang ku keluarkan, tapi tak kunjung tampak ada perubahan. aku bisa apa, segala cara sudah dicoba tapi masih saja nihil. Kata orang yang lebih tua, 'nanti kalau sudah menikah hilang sendiri, tenang saja". ah... entahlah, aku sendiri bingung apa korelasinya antara jerawat dan menikah. mungkin kalau sudah menikah stress berkurang sehingga jerawat tidak muncul lagi? tapi setauku justru banyak orang yang beban hidupnya bertambah setelah menikah. atau mungkin setelah menikah karena punya suami jadinya istri lebih merawat diri sehingga jerawat pun enggan tumbuh? sudahlah, aku tidak mau menebak-nebak.
Sudah sebulan lebih aku pindah di kostku yang baru ini, rasanya sama saja. sudah 3 kali aku hijrah kost-kostan selama 4 tahun aku di Jogja. padahal niatku sedrai awal aku hanya akan menetap di satu kost saja tanpa pindah-pindah selama aku berada di Jogja. apa boleh buat, rencana memang tak semua berjalan serupa. kalau saja harga kostnya tidak naik, dan aturan kostnya tidak berubah, mungkin aku masih disana. kost lamaku di seputaran jalan Taman Siswa, dekat dengan kampusku. alasan ku memilih kost yang dekat dengan kampus tentu saja karena kebiasaanku bangun siang, dan selalu pergi kuliah mepet jam masuk, bahkan telat, apa jadinya kalau kost ku jauh? mungkin absenku sudah berkali-kali bolong dan aku tidak bisa ikut ujian dan kuliahku terhambat sehingga aku tidak bisa tutup teori di waktu yang tepat dan tidak bisa wisuda tahun ini, dampaknya sungguh berantai. mungkin tidak seberlebihan itu, kalau kostku jauh dari kampus, tentunya aku akan bangun lebih pagi dan menyesuaikan jadwal tidurku sehingga aku tidak kesiangan dan terlambat kuliah.
tapi aku bersyukur, bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, walaupun tidak lebih cepat dari yang lainnya, karena impianku adalah kuliah 3,5 tahun untuk program S1 ini. tapi itulah aku, aku bukan mahasiswa jenius, aku tidak rajin, aku bukan golongan nomer satu, tapi aku juga bukan di urutan belakang, aku biasa-biasa saja,aku rata-rata mahasiswa pada umumnya, tidak ada yang bisa dibanggakan memang dari golongan biasa-biasa saja, juga tidak ada yang menaraik dari golongan biasa-biasa saja, jika aku si urutan pertama atau mungkin aku si urutan terakhir, mungkin justru lebih menarik dan kompleks ceritanya. tapi ya inilah aku si golongan rata-rata. mungkin aku bisa mengejar targetku dulu kuliah kurang dari 4 tahun untuk S1, tapi ditengah perjalanan aku tidak mau bekerja lebih keras dari yang rata-rata, aku tidak mau berjuang lebih gigih, sehingga di kelompok rata-ratalah aku sekarang.
Sudah sebulan lebih aku dikost ini, tiap malam menikmati pemandangan yang sama, Ambarukmo Plaza yang mereka sebut mall terbesar se-DIY dan Jateng bercokol kokoh diseberang jendela kamarku, sekali-sekali aku mengintip dari balik tirai yang tersibak kena angin dari kipas anginku tentunya, karena udara belakangan ini sedang tidak bersahabat, tidak mungkin ada angin dari luar sana yang kuat menghembuskan tiraiku hingga berayun-ayun. kilauan cahayanya seolah-olah memanggilku untuk berkunjung, sungguh menarik perhatian karena itu satu-satunya cahaya yang ramai diantara kegelapan malam yang dapat aku saksikan dari jendela kamarku. karena saingannya hanyalah sawah, hutan bambu, rumah penduduk yang mungil-mungil dilihat dari kamar kostku yang terletak di lantai dua. lengkap sekali disini, ditengah kota tapi aku masih bisa menikmati hijaunya sawah dan jika beruntung cuaca cerah di pagi hari aku bisa menikmati merapi yang gagah itu hingga puncaknya. sungguh menakjubkan pemandangan pagi selepas subuh, langit yang remang-remang dengan mentari yang masih malu-malu menampakan dirinya, merapi yang gagah, sedikit cahaya kilau kemilau amplaz, sawah yang hijau sebagian dan sebagian lagi belum ditanami, dibajak oleh kerbau kerbau yang melenguh dibawah kendali pak tani, bambu yang menari-nari mengikuti angin, dan udara sejuk. dari kamar ini pula sesekali aku melihat pesawat lewat setiap jam mungkin, aku sendiri kurang mengamati, mungkin temanku lala lebih tau, dia selalu menghitung jam berapa pesawat selanjutnya akan lewat, dan setiap kali ada pesawat lewat dia melengok ke atas melihat pesawat apa yang lewat, dan bergumam "tebakanku benar". ternyata dia juga menebak pesawat apa yang lewat di jam-jam tertentu. memang sudah seperti petugas tower bandara saja, ya kost ku memang dekat bandara, jadi pesawat terbang cukup rendah di atas sini.
selain bandara, kostku juga dekat dengan perlintasan kereta api, sebentar-sebentar juga akan terdengar suara tilulilut sirine tanda jalanan ditutup untuk kereta api yang melintas. lengkap memang.
awalanya aku terganggu dengan suara pesawat yang sebentar-sebentar lewat, rasanya seperti tinggal di lintasan mereka saja, sungguh berisik. tapi lama-lama terbiasa juga. sirine tanda portal jalanan ditutup untuk kereta melintas juga cukup mengganggu, tapi aku juga sudah berdamai dengan itu.
aku masih mengetik sambil menggaruk tanganku yang mulai memerah dan bentol, beginilah kost dekat sawah, banyak serangga. gampang sekali mengumpulkan pasukan semut ini, sedikit saja ada makanan langsung diserbu, tak ada makanan pun mereka berkumpul mengelilingi karpetku yang ku gelar hampir menutupi seluruh lantai kamar. tidak hanya semut yang sering bertamu, entah jenis serangga apa lainnya aku tidak cukup mengenal mereka, yang jelas setiap bangun pagi selalu ada jejak di badan ini. aku hanya bisa menggerutu, sejak kecil tidak pernah ada bekas apa apa di badanku, tapi ketika sudah dewasa begini malah banyak jejak-jejak kecil menyebalkan, rencana menutup ventilasi agar tidak dimasuki serangga kalu malam hanya wacana saja, aku selalu lupa. semoga besok ingat.
tidak banyak komunikasi yang aku jalin disini, anak kost disini hampir tidak saling mengenal, selalu tutup pintu. walhasil tidak banyak yang aku kenal hanya 2 atau 3 mungkin. itupun hanya sekedar sapa saja kalau bertemu, tidak ada ngobrol panjang, haha hihi, saling nginep dikamar masing-masing seperti kebiasanku dikost lama ku dulu. disini benar-benar berbeda.
kulihat jam di sudut layar segiempat ini, sudah setengah delapan lebih, ah ya.. aku belum mandi.
ku rasa aku harus segera mandi, aku bergegas mengambil handuk menuju kamar mandi, tanpa mematikan laptop terlebih dulu, karena aku tau, setelah mandi nanti laptop jugalah yang akan ku raih pertama kali, sebelum berpakaian bahkan.
benar, aku langsung membuka tab facebook, membaca apakah ada pemberitahuan terbaru, mengomentari status puitis yang kubuat sejam yang lalu. setelah sekian lama tidak membuka social media ini, aku tiba tiba menuliskan kalimat puitis yang bahkan tidak pernah kulakukan, sebenarnya sering, tapi hanya sejangkauan buku harian dan blog pribadiku saja, tidak pernah aku menulis kalimat puitis dan kubagikan di social media, aku malu dianggap menye-menye.
ah, kuperhatikan badanku mulai menyusut, entah apa yang membebani pikiranku belakangan ini, harusnya aku mahasiswa yang merdeka sekarang, karena hanya tinggal menunggu wisuda dilaksanakan. lepas sudah beban skripsi, lepas sudah beban tugas kuliah yang estafet tanpa henti. lenganku mengecil, pantas saja jam ku makin mengendor, makin terlihat kecil saja. aku harus berhenti begadang, kurangi stress, mencari hiburan dan perbanyak makan.
bagaimana caranya dengan uang yang menipis ini, aku makan saja sehari dua kali, bahkan kadang hanya sekali, itu juga dengan lauk kering tempe yang kubawa dari rumah dari liburan terakhirku 3 bulan yang lalu. persedian mie juga menipis, pun beras juga.
sayup sayup kudengar suara dari handphone bututku satu-satunya, kulihat namanya, "ibu"
kudiamkan saja, entah kenapa aku malas mengangkat telponnya, padahal aku kangen sekali mendengar suaranya, bahkan ingin memeluknya walaupun tidak pernah kulakukan, tubuh ini terlalu kaku untuk memeluk, karena itu bukan kebiasaan di keluarga kami, kami bukan keluarga yang dengan leluasa mengatakan sayang, kangen, pelukan, ciuman, asing bagi kami,. terlalu gengsi karena tidak ada yang melakukan itu sedari kami kecil,
kubiarkan saja panggilan dari ibu, besok saja baru aku angkat karena biasanya ibu akan menelpon lagi.
kubaringkan tubuhku diatas karpet coklat, kuali kepalaku dengan guling, kupeluk buku yang sedang kubaca belakangan ini, terakhir kubaca air mataku terkuras habis, dan aku bangun dengan mata sembab yang tidak bisa aku tutupi bahkan dengan memoles eyeliner setebal mungkin memberi efek mataku besar tapi tidak sembab. tetap saja gagal.
ku bayangkan sosok tokoh utama dalam novel itu, membuatku belajar banyak, memotivasiku untuk lebih baik, tapi aku tau hanya gertak sambal saja, karena kelak aku akan lupa dan menjadi orang malas lagi.
aku membayangkannya sambil memejamkan mata, dan larutlah aku dalam tidur yang panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar